Wusi Tungkau Nansarunai, Menjemput Jiwa yang Tak Pernah Runtuh di Balik Tragedi Usak Jawa
Jangan sampai hawa nafsu membuat kita menghancurkan segalanya," pesan kuat yang disampaikan dalam pementasan "Wusi Tungkau Nansarunai". (Foto: Zailani/TIMES Indonesia)

Wusi Tungkau Nansarunai, Menjemput Jiwa yang Tak Pernah Runtuh di Balik Tragedi Usak Jawa

Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” di Taman Budaya Kalteng angkat sejarah Dayak Ma’anyan, kisah kehancuran, refleksi nafsu, dan semangat bangkit.

TIMES Palangkaraya,Sabtu 2 Mei 2026, 10:00 WIB
448
M
Muhammad Zailani

PalangkarayaDi bawah temaram lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, Jumat (1/5/2026) malam, sebuah memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari. 

‎Bukan sekadar gerak tari, pementasan sendratari yang bertajuk "Wusi Tungkau Nansarunai" hadir sebagai refleksi mendalam tentang kehancuran, hawa nafsu, dan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.

‎Kisah ini bermula dari kejayaan sebuah Kerajaan purba Suku Dayak Ma'anyan yang merupakan salah satu sub suku Dayak tertua di Kalimantan. Kerajaan ini telah berdiri sejak zaman prasejarah yang telah bertahan salama ribuan tahun sebelum akhirnya runtuh. 

‎Kerajaan Nansarunai yang hidup dalam harmoni sempurna. Di bawah kepemimpinan tokoh penting Amah Jarang, rakyatnya merayakan kesuburan tanah melalui ritual wadian dan nyanyian syukur. Namun, kedamaian itu terusik ketika "Nansarunai Usak Jawa" menjadi kenyataan pahit dalam linimasa sejarah mereka. 

‎Produser pementasan, Alfirdaus, menjelaskan bahwa istilah Jawa dalam lisan Dayak Ma’anyan merujuk pada entitas dari seberang lautan, yang dimana dalam catatan sejarah sering dikorelasikan dengan ekspansi Kerajaan Majapahit pada zaman dulu. 

‎Serangan besar tersebut mengakibatkan peperangan tragis yang meluluhlantakkan peradaban Nansarunai hingga rata dengan tanah.

‎Di balik peperangan fisik, pementasan ini membawa pesan filosofis yang kuat tentang pengendalian diri. 

‎Dalam pementasan sendratari tersebut, Alfirdaus, menekankan bahwa pemicu utama kehancuran Nansarunai adalah hawa nafsu yang tidak terkendali.

‎"Jangan sampai oleh hawa nafsu, kita membuat hancur semuanya. Apa yang sudah dibangun dan ditata selama ini bisa kacau karena nafsu yang tersulut," terang Alfirdaus.

‎Ratusan penonton yang memadati tribun UPT Taman Budaya dalam pementasan sendratari tersebut, menyaksikan langsung momen memilukan saat terjadi eksodus besar-besaran Suku Dayak Ma’anyan ke pedalaman hutan Barito demi menyambung nyawa. 

‎Namun, di tengah ratapan dan dentingan besi perang, pementasan ini memberikan pesan mendalam bahwa kehancuran fisik bukanlah akhir dari segalanya. Kita boleh hancur, tapi kita perlu bangkit.

‎Bagi masyarakat Dayak Ma'anyan, Nansarunai bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan identitas yang mengalir dalam darah. 

‎Meski kerajaannya telah rata dengan tanah, Jiwa Nansarunai ditegaskan tetap hidup dan diceritakan dari generasi ke generasi. 

‎Alfirdaus menekankan bahwa pementasan sendratari ini adalah pengingat bahwa harga diri sebuah bangsa terletak pada kemampuannya untuk menjaga akar budaya di tengah gempuran zaman.

‎Harapan besar disampirkan pada pundak generasi muda melalui karya seni ini. Penonton diajak untuk tidak hanya sekadar tahu sejarah, tetapi memahaminya secara bertanggung jawab dan tahu dari mana sumbernya berasal.

‎Kesadaran akan sejarah ini diharapkan menjadi benteng bagi anak cucu Dayak Ma'anyan agar tidak lagi terjerumus dalam kehancuran akibat hawa nafsu yang tak terkendali.

‎"Nansarunai mungkin sudah hilang secara fisik, tapi jiwanya tetap ada di dalam diri kita," tandas Alfirdaus menutup percakapan. Malam itu, di Jalan Temanggung Tilung, panggung UPT Taman Budaya telah berhasil menjadi saksi bahwa luka lama bisa diubah menjadi kekuatan yang membangun semangat baru. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Zailani
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Palangkaraya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.