Kemarau di Kalteng Diramal Molor sampai 2027, Begini Respons Dinas Pangan
Pemprov Kalteng melalui Dinas Pangan, mengklaim stok beras di provinsi setempat masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
PALANGKA RAYA – Musim kemarau panjang yang diproyeksikan berlangsung hingga awal 2027 membayangi produksi pangan di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Meski begitu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) melalui Dinas Pangan, mengklaim stok beras di provinsi setempat masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng, Irpan Rianto, mengatakan, berdasarkan hasil analisa prognosa sementara menunjukkan produksi pangan di Kalimantan Tengah hingga Juli 2026 sebenarnya masih mengalami kekurangan.
Namun angka kekurangan itu, kata dia, sudah bisa ditekan dan hanya setara kebutuhan beras untuk satu bulan ke depan.
"Kita melihat cuaca kita cukup ekstrem, walaupun situasi masih aman, tapi itu ketahanan sendiri sampai sejauh ini," kata Irpan, kepada TIMES Indonesia, Rabu (19/8/2026).
Irpan menekankan, angka kekurangan tersebut baru sebatas proyeksi di atas kertas dan belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah kering giling Kalimantan Tengah periode Januari–Juli 2026 tercatat 306.725 ton, setara 182.198 ton beras.
Ancaman kekeringan berkepanjangan ini muncul seiring proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut fenomena El Nino kuat bakal membuat musim kemarau di Kalimantan Tengah berlangsung hingga akhir Desember 2026.
Bahkan kemarau berpotensi meleset sampai awal 2027 sehingga molor dari jadwal musim hujan yang seharusnya dimulai Oktober.
Kendati demikian, Irpan mengklaim kondisi kering justru menguntungkan bagi sebagian besar lahan pertanian di Kalimantan Tengah yang bertipe rawa pasang surut.
Menurutnya, ketersediaan air untuk tanaman padi di lahan jenis ini tetap mencukupi saat kemarau, berbeda dengan musim hujan atau La Nina yang justru berisiko membuat lahan pasang surut kebanjiran hingga gagal panen.
Ia juga mengeklaim produktivitas dan mutu gabah pada musim kemarau cenderung lebih tinggi dibanding musim hujan, karena tingkat kekeringan gabah saat panen dinilai lebih ideal dan tidak mudah rusak seperti saat kadar air tinggi.
Untuk mengantisipasi kekurangan air di sejumlah lahan yang tidak diuntungkan kondisi kemarau, Dinas Pangan disebut telah menyiapkan langkah mitigasi lewat pompanisasi dan pembangunan embung.
"Petani kita sudah jauh lebih memahami dengan kondisi alam kita di Kalimantan, memang ada antisipasi duluan," tandas Irpan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

