Sudah Cukupkah Negara Balas Jasa Veteran? Ini Jawaban Dua Pejuang di Palangka Raya
Salah satu veteran yang terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia IJAM. DLM (Foto: Zailani/TIMES Indonesia)

Sudah Cukupkah Negara Balas Jasa Veteran? Ini Jawaban Dua Pejuang di Palangka Raya

Dua veteran pejuang membawa pertanyaan yang sama: 'Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudah sepadankah penghargaan yang mereka terima dari negara?'

TIMES Palangkaraya,Senin 17 Agustus 2026, 14:16 WIB
180
M
Muhammad Zailani

PALANGKA RAYAUpacara peringatan HUT ke-81 RI di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) Senin, 17 Agustus 2026, baru saja diselengarakan dengan cukup meriah.

‎Seusai upacara tersebut, dua veteran yang berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan ditemui untuk berbagi cerita.

Yang satu berjuang sebagai rakyat sipil sejak sebelum republik ini berdiri. Yang satu lagi mengabdi lewat jalur kemiliteran resmi, bertahun-tahun setelah kemerdekaan diproklamasikan.

Dua jalan berbeda, tapi keduanya membawa pertanyaan yang sama: 'Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudah sepadankah penghargaan yang mereka terima dari negara?'

‎Ijam, kelahiran 1933, adalah salah satunya. Ia berasal dari kawasan Danau Mare yang kini masuk wilayah Katingan, Kalimantan Tengah.

Sejak usia tujuh tahun, jauh sebelum sempat mengenyam pendidikan formal, ia sudah ikut ambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan menurut penuturannya keterlibatan itu berlangsung sampai sekitar tahun 1949 hingga 1950.

Ia menegaskan tidak pernah ikut angkat senjata, karena tugas itu bukan untuk anak seusianya. Tugasnya adalah mengantar makanan untuk para pejuang merah putih yang bergerilya di kawasan Rungan dan Menuhing.

‎Ijam menceritakan, keterlibatannya sebagai pengantar makanan itu bukan tanpa alasan.

Anak-anak seperti dirinya sengaja dilibatkan justru karena tidak dicurigai tentara Belanda, berbeda dengan orang dewasa yang gerak-geriknya selalu diawasi. 

‎‎"Kalau yang besar itu dicurigai Belanda," ujar Ijam sang veteran ketika ditemui TIMES Indonesia. 

‎Dengan berpura-pura bermain di sekitar pos-pos penjagaan Belanda, ia dan kawan-kawan sebayanya menyelipkan bungkusan makanan yang harus sampai ke tangan para pejuang, siang maupun malam, tergantung kapan dibutuhkan.

‎Tugas ini bukan tanpa risiko. Ijam masih ingat pamannya, seorang pejuang bernama Saliter, tewas tertembak di Danau Mare. Seorang pejuang lain yang ia kenal, Minon, juga gugur di lokasi yang sama.

Ia pun turut melewati dua masa penjajahan, Belanda dan kemudian Jepang, yang menurutnya sama-sama memberikan tekanan meski dengan cara berbeda.  ‎"Istilahnya Belanda, tapi yang kerasnya itu Jepang," Katanya.

‎Pengakuan resmi atas jasanya sebagai veteran baru ia dapatkan belakangan.

Ijam mendaftarkan diri pada 1965, di tengah situasi politik yang penuh kecurigaan, saat pendaftar semacam itu berisiko dituduh terlibat PKI. Kekhawatiran itu membuatnya menunda proses pendaftaran selama bertahun-tahun.

‎‎Saat ini, Ijam menerima gaji pensiun dan uang kehormatan dari negara, ditambah bantuan tahunan yang jumlahnya tidak menentu. Bahkan, ketika ditanya apakah nilai bantuan tersebut sudah memadai, jawabannya singkatnya "belum cukup".

‎Selain Ijam, Veteran lain bernama, D. Saragih, yang merupakan purnawirawan ABRI dengan pangkat terakhir Kapten.

Berbeda dari Ijam yang berjuang sebagai warga sipil sejak masa revolusi, Saragih menempuh jalur kedinasan militer resmi, ia terlibat dalam operasi militer pada masa Dwikora.

‎Dari pengalamannya, Saragih menjelaskan bahwa status veteran sebenarnya terbagi dalam beberapa kategori.

Ada Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), yakni golongan yang berjuang sejak sebelum dan selama revolusi kemerdekaan seperti Ijam.

Ada pula veteran pembela, serta veteran yang pernah menjalani penugasan operasi militer, termasuk yang sempat dikirim bertugas ke luar negeri.  ‎"Enggak semua pensiunan itu otomatis jadi veteran," katanya. 

‎Menurutnya, status veteran baru melekat pada seseorang yang benar-benar pernah terjun dalam operasi, bukan sekadar menjalani masa dinas administratif.

‎Sebagai bukti pengabdiannya, Saragih menerima piagam penghargaan dari negara. 

Ia juga menekankan bahwa perjuangan warga sipil tanpa status kedinasan resmi, seperti yang dijalani Ijam, sama-sama layak mendapat pengakuan, meski melalui jalur yang berbeda.

‎Ketika disinggung soal cukup atau tidaknya penghargaan yang diterima para veteran, Saragih punya pandangan berbeda dari Ijam. 

Menurutnya, soal cukup atau tidak cukup sebenarnya tidak akan pernah ada habisnya jika diukur dari sisi manusia, sebab rasa cukup itu sendiri tidak pernah benar-benar ada.

Baginya, persoalan ini bukan semata-mata soal besaran uang kehormatan atau penghargaan yang diberikan negara saat ini, melainkan soal pengabdian yang menjadi dasar dari perjuangan itu sendiri.

‎Kedua kisah ini menggambarkan dua bentuk pengabdian yang berbeda jalur, namun sama-sama dipertaruhkan demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

‎Satu hal yang menyatukan keduanya adalah penilaian yang sama soal kesejahteraan mereka hari ini. gaji pensiun dan uang kehormatan yang diterima para veteran, menurut mereka, masih belum sepenuhnya memadai untuk menopang kehidupan di usia senja.

‎‎Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan diproklamasikan, kisah Ijam dan Saragih menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan datang dalam banyak bentuk, dan penghargaan negara atas jasa itu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Zailani
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Palangkaraya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.