Inspiratif! Putri Asal Kalteng Ini Jadi Perempuan Dayak Pertama Pakar Industri Pertahanan
Dorothea Sthallhani Jasi saat menempuh pendidikan di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan) hingga meraih gelar Magister Pertahanan (M.Han). (Foto : Ist/TIMES Indonesia)

Inspiratif! Putri Asal Kalteng Ini Jadi Perempuan Dayak Pertama Pakar Industri Pertahanan

Perjuangan Dorothea Jasi, putri Dayak dari pelosok Kalteng, menembus keterbatasan hingga jadi pakar industri pertahanan. Kisahnya jadi inspirasi semangat belajar dan pantang menyerah.

TIMES Palangkaraya,Sabtu 4 April 2026, 17:20 WIB
2.1K
M
Muhammad Zailani

PALANGKA RAYA"Orang kampung tidak boleh menyerah dengan keadaan." Kalimat sederhana ini menjadi bahan bakar bagi Dorothea Sthallhani Jasi, S.T., M.Han, seorang putri asli Dayak asal Puruk Cahu, Murung Raya, Kalimantan Tengah, dalam menaklukkan kerasnya dunia pendidikan di Pulau Jawa hingga menjadi pakar Industri Pertahanan.

‎Dalam perbincangan hangat bersama jurnalis TIMES Indonesia pada Sabtu (4/4/2026), dosen Teknik Industri Institut Teknologi Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Kalimantan ini membagikan lembaran kisahnya yang penuh perjuangan, dari seorang mahasiswi yang sempat "gagap" akademis hingga menjadi lulusan terbaik di bidang yang sangat spesifik dan langka.

‎Langkah besar Jasi dimulai pada tahun 2012 saat ia memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk kuliah Teknik Industri di Universitas Atma Jaya. Meski berangkat dengan modal prestasi peringkat di sekolah, Jasi tak menampik adanya kesenjangan (gap) kualitas pendidikan yang mencolok.

article

‎"Di awal kuliah, saya sempat kaget. Mata kuliah hitungan seperti Kalkulus dan Fisika Dasar terasa sangat berat karena perbedaan standar pendidikan di daerah. Saya butuh tiga semester untuk benar-benar mengejar ketertinggalan itu," kenang Jasi.

‎Tak hanya bertarung dengan buku, Jasi juga harus berdamai dengan keterbatasan ekonomi. Untuk bertahan hidup di perantauan, ia melakoni berbagai pekerjaan sambilan kuliah.

‎"Kalau tidak kerja, saya tidak makan. Pernah dalam sehari hanya sanggup makan satu kali," tuturnya. 

‎Namun, Kerja keras tersebut berbuah manis. Ia berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude, serta menjadi lulusan ke-7 dari sekitar 150 mahasiswa dalam satu angkatan di program studi Teknik Industri. 

‎Sebelum mendalami dunia pertahanan, Jasi sempat mencicipi dunia jurnalistik. Suaranya pernah akrab di telinga masyarakat Puruk Cahu dan Palangka Raya saat ia menjadi News Anchor dan reporter di salah satu televisi lokal (Silva TV dan Permata TV) pada tahun 2017-2018.

‎Selain itu, ia juga memiliki pengalaman profesional di sektor industri, termasuk bekerja di perusahaan multinasional pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan Tengah sebagai Manajer Corporate Social Responsibility (CSR). Pengalaman lintas sektor ini membentuk perspektifnya menjadi lebih luas dan adaptif.

‎Keahlian tekniknya juga sempat ia asah sebagai konsultan lingkungan yang menyusun dokumen Amdal. Pengalaman kerja yang beragam ini membentuk karakter Jasi menjadi sosok yang adaptif dan memiliki wawasan luas sebelum akhirnya ia merasa terpanggil untuk melanjutkan karir pendidikan nya ke pascasarjana. 

‎Hasrat untuk terus belajar membawanya meraih beasiswa penuh di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan). Di sana, ia memilih jalan sunyi yang jarang dilirik perempuan: Industri Pertahanan. Jasi mendalami teknologi alutsista, termasuk melakukan riset mendalam mengenai transfer teknologi rudal C705.

‎Di lingkungan Unhan yang dikenal disiplin, terstruktur dan bercorak semi militer. Jasi membuktikan bahwa identitasnya sebagai Putri Dayak adalah sebuah kekuatan. Ia lulus dengan gelar Magister Pertahanan (M.Han), menjadikannya salah satu srikandi Dayak asal Kalimantan Tengah pertama yang memiliki spesialisasi di bidang teknologi persenjataan nasional.

‎Kini, Jasi memilih pulang untuk membangun tanah kelahirannya melalui jalur pendidikan di ITSNU Kalimantan. Ia dikenal sebagai dosen yang tegas soal literasi. Baginya, kemiskinan bisa dilawan, namun ketertinggalan informasi hanya bisa diobati dengan membaca.

‎"Saya ingin mahasiswa di Kalteng punya mental petarung. Jangan merasa rendah diri karena berasal dari daerah. Kita punya potensi yang sama, asalkan mau membaca dan membuka diri terhadap teknologi," tegasnya.

‎Melalui perjalanan hidupnya, Dorothea Sthallhani Jasi bukan sekadar mengajar teori teknik industri, melainkan sedang menanamkan benih keberanian bagi putra-putri Dayak lainnya untuk berani bermimpi setinggi langit, bahkan hingga ke puncak kedaulatan pertahanan negara. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhammad Zailani
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Palangkaraya, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.